Bakteri Pada Makanan Kaleng


Bakteri Pada Makanan Kaleng – Semakin majunya zaman dan perkembangan teknologi kini makananpun hadir dalam kemasan kaleng. Bahkan kini makanan kaleng sudah sangat akrab dalam kehidupan kita khususnya di kota – kota besar.

Bakteri Pada Makanan Kaleng

Untuk orang – orang yang super sibuk tentu akan terbantu dengan adanya makan kaleng ini. Hal ini karena makanan kaleng cenderung lebih cepat disajikan / praktis dan dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama.

Makanan kalengan ini tentu harus melewati proses sterilisasi untuk menghilangkan kontaminasi dari kuman maupun bakteri. Proses ini biasanya dilakukan dengan memanggang makanan pada suhu 121 derajat Celcius selama 20 – 40 menit untuk makanan jenis daging.

Namun untuk makanan jenis sayuran dilakukan pada suhu yang lebih rendah dan waktu yang lebih singkat. Selanjutnya kaleng ini akan ditutup dengan sangat rapat agar tidak ada udara, air atau mikroba yang dapat melewatinya.

Walaupun semua prosesnya dilakukan dengan baik dan steril namun makanan kalengan juga dapat mengalami kerusakan yang diakibatkan karena berlalunya masa simpan (kadaluwarsa) ataupun karena adanya kesalahan karena dalam proses produksi.

Selain itu proses sterilisasi dengan suhu dan lama waktu yang tidak sesuai juga dapat mengakibatkan berkembangnya clostridium botulinum yang merupakan bakteri thermophilik (tahan panas) yang dapat hidup dalam kondisi anaerobik (tidak ada oksigen).

Bakteri pada makanan kaleng ini dapat menghasilkan toksin (racun) yang akan menyerang saraf atau biasa disebut neurotoksin. Makanan kaleng yang terkontaminasi bakteri jenis ini bila terkonsumsi maka gejalanya akan terjadi setelah beberapa hingga 1 – 2 hari setelah mengkonsumsi.

Gejala seperti mulut kering, penglihatan kabur, tenggorokan kaku, kejang – kejang hingga gangguan pernafasan yang dapat menyebabkan kematian adalah gejala yang ditunjukkan karena keracunan bakteri ini.

Bakteri pada makanan kaleng ini tentu tidak dapat dilihat dengan mata biasa dan penggunaan mikroskop juga masih kurang jelas untuk mengetahuinya. Biasanya perusahaan makanan kalengan mempunyai laboratorium khusus yang digunakan untuk menguji produk makanan kalengan.

Sampel makanan kalengan hasil proses produksi ini akan diteliti di dalam laboratorium. Sampel ini biasanya akan diuji pada alat yang dapat mendeteksi adanya kandungan bakteri di dalam makanan yaitu Spektrofotometer.

Setelah makanan kaleng ini lolos pengujian barulah makanan kaleng ini siap dipasarkan. Walaupun menyantap makanan kaleng akan jauh lebih praktis namun makanan kaleng juga memiliki kekurangan.

Kekurangan ini yaitu penurunan gizi produk yang disebabkan karena pemanasan suhu tinggi saat sterilisasi. Selain itu tekstur makanan juga tidak lagi segar karena proses tersebut dan tak jarang timbul rasa seperti rasa besi yang tidak mengenakan.

Namun bukan berarti kita benar – benar menghindari produk makanan kalengan. Kita tentu harus lebih cerdas dalam memilih makanan kalengan, pilihlah makanan kalengan dari produsen yang terpercaya, pilih makanan kaleng yang masih baik kemasannya dan pastinya belum melebihi masa kadaluwarsa.

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *